Monday, February 01, 2010

Selebrasi Bola


Selebrasi atau perayaan kemenangan dalam sebuah pertandingan biasanya memang akan terlihat begitu unik. Dalam sepakbola, para pemain berupaya untuk melakukan aksi selebrasi seunik mungkin. Bisa dengan bahasa tubuh seperti mengepalkan telapak tangannya sembari berteriak, atau berlari mendekati tribun penonton sembari mengacungkan dadanya, atau dengan tarian-tarian khasnya bahkan dengan sujud, sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt.

Disini penulis lebih memfokuskan tulisan ini kepada selebrasi model 'sujud syukur' yang biasanya dilakukan pemain bola mesir. Maka tak heran jika para komentator bola Al-Jazeera menjuluki mesir sebagai 'tim para orang-orang sujud', karena dalam setiap gol yang didapatkannya, para pemain mesir selalu melakukan selebrasi 'bersujud'.

Memang tidak diragukan lagi bahwa orang-orang Mesir itu kebanyakan taat beragama. Bahkan dalam urusan bolapun mereka tidak pernah lepas dari kata-kata, taufik dan inayah Allah. Dalam komentarnya setelah kemenangan Mesir atas Ghana dalam final piala Afica 2010 di Anggola tadi malam, Hasan Syahatah sebagai pelatih Mesir tidak pernah lepas mengatakan kata-kata 'alhamdulillah' dan 'taufik dan inayah Allah', seakan memang kemenangan mereka tersebut bukanlah karena taktik dan kualitas pemain saja yang menentukan, namun lebih dari itu, ada 'kehendak Allah' disana, ada semacam petunjuk yang Allah berikan sehingga tim Mesir dapat menggondol piala africa tersebut sampai tiga kali berturut-turut.

Memang secara kualitas, walaupun 90% pemain Mesir adalah jebolan liga lokal, namun kemampuan mereka hampir sama disetiap lininya. Mungkin itu yang menjadikan Mesir sebuah tim yang sulit untuk ditaklukkan. Bahkan mampu menorehkan rekor tim yang tidak pernah terkalahkan selama tiga kali piala africa sejak 2006, 2008 dan 2010 dengan 17 kemenangan dan 3 gelar juara. Sungguh sebuah prestasi yang sulit untuk dipecahkan, padahal kalau mau melihat lawan-lawan mesir dalam turnamen ini yang rata-rata adalah jebolan liga-liga bergengsi di eropa, seperti contohnya Ivory Coast, Kamerun dan Nigeria dengan segudang pemain bertalenta yang merumput di eropa.

Mungkin disinilah rahasia kenapa mereka dalam setiap golnya melakukan selebrasi 'bersujud' karena mungkin mereka menganggap, kalau mau hitung-hitungan materi pemain, maka tentunya tim-tim seperti Ivory Coast, Kamerun dan Nigerialah yang layak untuk menang. Namun, karena ada kehendak Allah disana plus taktik dari pelatih yang mendapatkan 'Inayah dan pentunjuk Allah' maka mereka mendapatkan kemenangan tersebut.

Jadi kemenangan dan gol yang tercipta bukan semata-mata karena kerjasama tim dan taktik pelatih, namun lebih dari itu, ada tangan Tuhan yang bermain juga ada 'kesesuaian' antara kehendak Tuhan dan apa yang diinginkan oleh pelatih. Maka tidak heran kalau Hasan Syahatah lebih memilih pemain-pemain yang tidak neko-neko, pemain-pemain yang taat dalam beragama. Karena, ternyata para pemain yang taat beragama tersebut akan lebih konsisten dengan apa-apa yang diinstrusikan pelatih.

Sunday, January 31, 2010

Kehendak Tuhan

Ini kehendak Tuhan, pikirku dalam hati
Ya, begitulah ...
Terbitlah terang setelah gelap memelukku dalam kelamnya

Ada kalanya rerimbunan menghalangi cahaya
Namun pada akhirnya ia akan menyapa
Tanpa diminta ataupun dipaksa

Ia datang seperti kicauan burung di pagi hari
Begitu polos dan jujur
Tak ada yang disembunyikan dalam kebimbangan

Seperti air dari hulu ke hilir
Matahari dari timur ke barat
Dan anggur yang jatuh ke bawah

Tanpa polesan dan ketakutan
Tanpa sungkan dan gelisah
Ia datang sembari tersenyum

Menghangatkan tubuh yang sedang menggigil
Maka tak salah jika aku selalu memeluk erat dirinya
Karena ia adalah penolong

Penolongku dari gelapnya penipuan
Manisnya kata dan harapan
Juga dusta yang dipolesi madu kematian

Ini kehendak Tuhan, pekikku dalam hati
Ya, terimalah ...
Terbitlah terang setelah gelap membekapku dalam hitamnya

nb : this poem sponsored by 'penolong' ... :D

Wednesday, January 06, 2010

Kapan Indonesia Masuk Piala Dunia?

Sungguh mengejutkan, sorang penonton dengan baju bola tim Indonesia masuk ke lapangan di akhir pertandingan Indonesia lawan Oman. Saya tercengang, sebegitu kesalkah penonton itu sehingga ia memberanikan dirinya untuk melakukan ‘protes’ tersebut ?

Ya, itu adalah protes buat dunia sepakbola kita. Protes yang mungkin mewakili jutaan penonton pertandingan di malam ini. Seakan ia hendak mengatakan kepada PSSI, saya saja bisa menggolkan, kenapa sebelas pemain dari dua ratus sekian juta orang dibuat seperti ‘kambing bodoh’ oleh Oman yang hanya negara kecil itu ?

Ya, saya sehati dengan penonton tersebut. Ia adalah perwakilan rakyat Indonesia. Ia adalah bukti bahwa kita sebagai bangsa begitu memalukannya. Dua ratus juta orang yang tidak bisa bermain bola. Dua ratus juta orang yang hanya selalu menjadi penonton. Jutaan rakyat yang hanya bisa menjadi fans klub-klub Eropa.

Mungkin kalau bisa saya usul. Tolong jadikan penonton itu sebagai ketua PSSI. Karena dia masih memiliki ‘nurani’ sebagai insan olahraga. Ia adalah kejujuran bagi bangsa ini. Ia juga adalah simbol kebangkitan sepakbola khususnya dan olahraga Indonesia pada umumnya. Hidup olahraga Indonesia.

Monday, November 23, 2009

Missing Link 2007

2007 saya lupa password blog ini, jadi tulisan saya tahun itu dialihkan ke multiply ...

Mendung

mendung hari ini kelam
gelap gulita langit meradang
menyimpan jutaan lara
membendung jutaan prahara

anginpun ribut saja menyambut
mendung yang hitam pekat
sepekat hati merana sedih
karena mendung sedang bergelayut

tak terkira hari ini mendung datang
walau sudah dari dulu anginnya menyapa
tapi hari ini, seakan mendung sudah tak kuasa lagi
membendung rintik hujan di hati

mendung selalu menakutkan
namun ia juga memberi harapan
mendung adalah akhir
ia juga awal

mendung oh mendung
biarlah kau berlalu
pergi bersama angin
membawa sejuta keperihan

mendung oh mendung
datang di padang kering
tersenyum dengan harapan
membawa sejuta kebahagiaan

akupun menangis melihat mendung
juga tersenyum...
menangis tersenyum bersama mendung
tersenyum menangis juga...

Jeddah, 23 November 2007

Perempuan yang Pasrah

pasrah...
pasrah adalah pilihan...
namun ia bukan bukan sebuah pelarian
pasrah hanya menginginkan keridhaan
tak ada yang perlu ditakuti
pasrah adalah kemulyaan
perempuan itu terus berucap
aku pasrah...
namun aku bukan pecundang
aku pasrah untuk mencapai kebahagiaan
karena aku yakin pasrah tidaklah sia-sia
karena aku yakin, suatu saat nanti pasrah akan menyalakan sumbu2 yang terpintal
memancarkan pijar api keemasan
karena pasrah...
pasrah pada cahaya diatas cahaya
dzat penerang dalam kegelapan
membuka tabir kelam penuh duka
karena pasrah...
yah...dan aku yakin...
dengan pasrah aku akan menggapain semua mimpi-mimpiku...
perempuan itu tersenyum...
tangannya terus menggapai-gapai langit...
aku pasrah, katanya...(selesai)

Cairo, 17 Oktober 2007

bangsa yang bukan-bukan

bangsaku adalah bangsa yang bukan-bukan
barat bukan, timurpun bukan
bisanya hanya catut sana catut sini
bangsaku tidak punya kepribadian

namun aku tidak malu
aku hanya sedih
aku tidak tahu harus bagaimana
aku ingin menolong bangsaku

tapi aku merasa tidak bisa
bangsaku sudah terpuruk sedemikian
datangpun aku enggan, takut
ada penjahat bangsaku di bandara

oh, semuanya sudah diluar rasioku
aku tak tahu apalagi yang akan menimpa bangsaku
karena bangsaku adalah bangsa yang bukan-bukan
maka tuhanpun murka

bangsaku selalu terombang-ambing
kata si kuat ke barat iapun ke barat
kata si kuat ke timur iapun ke timur
bangsaku memang tak punya harga diri

aku hanya bisa bermimpi
kelak bangsaku bisa menjadi negeri di atas awan
dengan kedaulatan dan kewibawaan
menjadi bangsa panutan uswatun hasanah...amien (tapi kapan ya?)

Cairo, 6 Juli 2007

Teroris !!!

wah, untung yah, penembak 32 mahasiswa di virginia bukan seorang muslim. seandainya dia adalah seorang muslim, saya tidak bisa membayangkan bagaimana kecaman dunia internasional terhadap agama islam.

memang beberapa tahun ini pasca 11 september 2001 lalu, umat islam selalu disorot. sedikit saja ada cela, maka sekoyong-koyong media diseluruh dunia akan menyorot. ya dibilang ajaran teroris lah, nabi kejam lah dan buanyak lagi tuduhan-tuduhan yang lebih kejam dari teror sendiri.

padahal kalau mau objektif dalam ajaran agama islam tidak ditemukan ajaran yang ofensif, bahkan semuanya defensif. dari menjaga agama, jiwa, harta, keturunan dan akal. dan saya yakin, semua orang yang bisa membaca teks-teks agama islam (Al-Quran dan Hadist) dengan baik dan benar akan mengatakan hal tersebut.

namun ternyata ada beberapa orang yang hanya memahami teks-teks keagamaan secara parsial (sathy) lalu mencap ajaran islam dengan tuduhan keji dengan mengatakan bahwa ada beberapa teks yang menjadi sumber legitimasi kekerasan yang dilakukan umat islam akhir-akhir ini (bom bunuh diri dll).

tuduhan ini hemat penulis lahir dari sikap takut yang berlebih-lebihan terhadap agama islam dan ketidaktahuan penuduh akan maqashidusysyariah yang lima tadi. juga kerancuhan pemikiran penuduh yang menggeneralisir secuil penyelewang sebagian umat menjadi cela ajaran seluruhnya.

seharusnya, penyelewengan-penyelewengan tadi disikapi dengan arif dan bijaksana. tidak berarti setiap muslim yang meledakkan bom itu adalah teroris dan menjadikan ajaran islam sebagai legitimasi perbuatannya. namun perlu adanya pemilahan kasus.

dalam kasus negara-negara terjajah (palestina, iraq, afghanistan dll) hal tersebut (bom bunuh diri dan kegiatan teror pada penjajah dll) adalah suatu hal yang wajar dan tidak bisa disebut terorisme. karena mereka, rakyat yang terjajah berusaha untuk mengambil haknya yang dirampas. karena kalau kita mengatakan bahwa seorang palestina yang meledakkan dirinya di bis umum israel dengan sebutan teroris maka sama saja kita mengatakan bahwa surabaya bukan kota pahlawan tapi kota teroris.

lain halnya jika seorang muslim atau organisasi muslim menteror (oposan) penguasanya. dalam hal ini penulis ambil contoh : di mesir dengan jaamah ikhwan al-muslimun. disini penulis menilai bahwa apa yang terjadi di mesir adalah murni politik kekuasaan semata.

bom-bom yang pernah meledak di mesir, walaupun menurut media adalah tanggung jawab jamaah islamiyah sempalan ikhwan, namun bukan berarti itu juga tanggung jawab ajaran islam. yang salah adalah pemahaman yang terlalu keras terhadap ajaran. nah, disini penulis sangat setuju dan sejalan dengan apa yang dilakukan al-azhar dengan politik kooperatif terhadap pemerintah. walaupun ada beberapa orang yang tidak suka mengatakan bahwa al-azhar sudah dibawah bayang-banyang husni mubarak , karena banyak sikap al-azhar yang sejalan dengan kepentingan pemerintah mesir.

namun yang perlu diacungi jempol adalah persatuan umara dan ulama sehingga menjadikan mesir negara yang aman dan tentram. walaupun tidak bisa dipungkiri masih banyak cacat yang harus dibenahi.

nah, hemat penulis apa yang terjadi di mesir bisa ditiru dan dipraktekkan di indonesia. karena mengingat banyaknya aksi terorisme yang meresahkan masyarakat penulis mengharap ada sebuah koalisi umara-ulama dalam hal ini diwakili oleh organisasi-organisasi kemasyarakatan besar seperti NU, Muhammadiah dll. sehingga pemahaman kasar terhadap teks keagamaan bisa diminimalisir sehingga nantinya indonesia menjadi negara tentram aman dan makmur. amien.

Kairo, 18 April 2007

Manfaat

Orang yang paling baik adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia. Dahulu kala kita sering mendengar kata-kata tersebut. Kata yang sarat dengan semangat optimisme dan nilai keprogresifan. Namun walaupun kita sudah mendengar dan membaca kata-kata ini sejak lama, namun penulis yakin tidak banyak dari kita yang bisa mengambil manfaat dan hikmah darinya.



Menjadi orang yang bermanfaat itu susah-susah gampang, karena berhubungan dengan banyak kepentingan. Kepentingan aku dan kamu. Yah, dua kepentingan yang tidak selamanya akan berjalan bersama, bahkan suatu ketika mungkin akan bertentangan.



Dalam suatu kesempatan kita mungkin memiliki keinginan untuk membantu orang disekitar kita, namun hal tersebut ternyata akan merugikan kita sebagai aku. Aku yang menginginkan semua hal berjalan lancar dan apa adanya. Aku yang selalu tidak ingin terbuang kesempatan dan tenaganya. Namun, menjadi manusia ideal versi nabi Muhammad s.a.w menjadikan aku berusaha untuk sedikit meluangkan waktu dan menguras tenaganya untuk orang lain.



Lagi-lagi permasalahan ketundukan menempati rating pertama untuk masalah ini. Kita berusaha untuk selalu berada dalam koridor nabi dan wahyu sehingga kita berusaha semaksimal mungkin menjadi manusia yang paling bermanfaat.



Manfaat yang diharapkanpun adalah manfaat yang digariskan Allah dan rasulnya. Ah, lagi-lagi penulis menyinggung-nyinggung permasalah agama dan ideologi. Tentunya pembaca tahu bahwa penulis adalah seorang beragama yang taat dengan ajarannya. Maka, bukan merupakan sebuah kekeliruan jika sedikit banyak penulis menyebut-nyebut tuhan, wahyu dan rasul.



Nah tentunya, jika manfaat itu adalah manfaat dan kebaikan yang digariskan agama, maka segala apa yang diperintahkan Allah dan Rasulnya adalah manfaat dan apa yang dilarang adalah sebaliknya.



Maka, untuk menjadi orang yang paling bermanfaat bagi manusia adalah dengan selalu berusaha mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan rasulNya dan meninggalkan apa yang dilarang Allah dan rasulNya. Karena manfaat tersebut bukan hanya akan dirasakan aku saja, namun juga kamu bahkan mereka dan semua akan merasakan dampaknya.

Kairo, 6 April 2007

Alampun Muak


Semua tragedi datang begitu rapih

Dimana-mana terdengar isak tangis

Bertalu-talu ucapan takbir

Namun alam tak lagi peduli



Seperti marah terus menerus

Alampun menampar, menggulung dan menggetarkan

Semua makhluk diatasnya

Tak peduli itu shaleh atau kafir



Alampun muak

Tak ada lagi kicauan burung

Yang tersisa hanya kepulan asab tebal

Dan ranting-ranting kering yang sudah menjadi arang



Huh, belum lagi para pencuri

Uang rakyat, kayu, pasir dan tambang

Seakan tanah ini miliki nenek mereka

Dengan bangganya mereka bermegah-megah



Diatas air mata darah mereka tertawa

Tak cukup si miskin lemah

Alampun mereka koyak

Dengan taring – taring keserakahan



Alampun muak

Tak mau lagi bersahabat dengan perusak

Tak ada lagi yang bisa kita perbuat

Kecuali kita bunuh para perusak bejat



Sungguh benar sabda sang maha bijak

Tak ada tempat bagi perusak alam

Kecuali bunuh, salib, potong silang kaki dan tangan

Oh, adakah sebuah ketundukan?

Kairo, 6 April 2007

Sunday, November 22, 2009

Perubahan

Keinginan adalah sebuah kungkungan. Kungkungan dari jiwa yang tidak puas dengan keadaan. Namun apakah kita harus diam dengan segala ketidak adilan. Apakah akan disebut sebuah ketamakan ketika kita hanya mempertanyakan. Lalu apa bedanya kita dengan sebongkah batu jika kita hanya diam. Padahal kita adalah sebuah komunitas yang kritis dan selalu merindu perubahan.

Keinginan kita hanya satu. Ketidak puasan dengan keadaan. Sebuah situasi dimana kita selalu dalam keterpurukan, kemiskinan dan kedurhakaan. Kita terpuruk karena kira selalu membiarkan keaniayaan merajarela. Kita didera kemiskinan karena ketamakan sudah mendarah daging disetiap diri kita. Kita durhaka karena kita tidak pandai memelihara pemberian.

Keinginan kita tersebut akan selalu terpatri dalam sanubari. Tertancap menghujam tepat di ulu hati. Sehingga hati ini berdarah-darah yang tetes-tetesnya selalu menggemuruhkan satu kata " perubahan, perubahan dan perubahan". Apakah mungkin suatu bangsa akan tetap dalam keterpurukan terus menerus. saya tidak pernah yakin. Yang saya yakini justru sebaliknya, bahwa gemuruh tetes-tetes darah diatas suatu saat pasti akan didengarkan oleh beberapa telinga-telinga para pejuang-pejuang baru, muda dan enerjik. Mereka akan mengajak dan menyeru semua manusia untuk menuju pada satu titik yaitu, PERUBAHAN.

Wednesday, November 11, 2009

Kepercayaan

Yang selalu kita fikirkan adalah bagaimana untuk memberikan kepercayaan kita kepada seseorang. Karena ternyata dunia ini sudah penuh dengan para pembohong dan penipu. Lihat saja bagaimana kasus KPK bergulir. Anda akan dengan terang-terangan melihat, mendengar dengan haqqul yakin bahwa ada sebuah kebohongan dan penipuan publik disana.

Negara ini seakan menjadi sarang para mafia yang dengan seenaknya saja bisa menyalahkan orang yang tidak salah dan membebaskan orang-orang bersalah. Tentunya tidak dengan gratis, pasti harga telah dipatok sekian milyar bahkan triliun untuk memuluskan langkah orang-orang bertangan buntung tersebut.

Negara ini begitu rusaknya. Tidak ada hukum, tidak ada keadilan, tidak akan kepercayaan. Semuanya busuk dan bau anyir. Apa jadinya ketika para penegak hukum adalah orang yang pertama kali melanggar hukum ? Apa jadinya ketika orang-orang jahat dengan kekuatan uang bisa dengan sangat mudah lari ke luar negeri dan meminta perlindungan ke negara yang notabene masih tetangga ? Apa jadinya kalau orang-orang bajingan itu kemudian membuat sebuah proyek balas dendam pada negeri tercinta ini ?

Sebuah mega proyek untuk menghancurkan sendi-sendi sebuah pemerintahan yaitu sebuah kepercayaan !!! Herannya, mereka-mereka itu kemudian dibantu oleh para penghianat negara ... mereka dibantu oleh orang-orang yang selama ini kita anggap sebagai pahlawan, pembawa kedamaian dan ketentraman masyarakat ... Sungguh, hati ini tertusuk-tusuk melihat kebobrokan ini ...

Sungguh hati ini tidak rela melihat negeri ini semakin terpuruk. Sungguh hati ini takut jika negri ini akan dibinasakan oleh Allah. Sungguh hati ini sangat bermuram durja memikirkan orang-orang lugu yang tidak tahu apa-apa yang akan menjadi korban dari perbuatan dzalim orang-orang yang kuat dan dianggap pahlawan itu ...

Qatamea, 11 November 2009

Wednesday, October 28, 2009

Berfikir !!!

Sebenarnya beberapa hari ini saya sudah berencana untuk membuat beberapa tulisan, namun entah kenapa jari ini serasa malas untuk mengetik. Mungkin udara Kairo yang mulai mendingin ini membuat otak saya sedikit-demi sedikit membeku. Padahal, banyak kejadian yang pantas untuk diabadikan dalam tulisan.

Salah satunya adalah fikiran-fikiran saya ketika mengendarai mini bus 69 dari Qatamea ke Kampung Sepuluh sana. Perjalanan yang lumayan agak lama kadang membuat saya kembali melakukan aktivitas tafakur. Sekitar 30 menit waktu yang saya tempuh untuk sampai ke pemukiman kebanyakan mahasiswa indonesia di mesir itu. Jika saya kalkulasikan pulang pergi dengan menunggunya, saya bisa menghabiskan 1,5 sampai 2 jam habis begitu saja.

Bisa dibayangkan, jika setiap hari saya bolak-balik, pastinya banyak waktu yang terbuang sia-sia. Oh tidak, saya lupa bahwa setiap kali menaiki mini bus tersebut saya berfikir, dan berfikir saya rasa bukan pekerjaan yang sia-sia. Namun apa gunanya hanya 'berfikir'? Bukankah seseorang itu berfikir untuk mengubah perilaku ? Dari keburukan menuju kebaikan. Berfikir itu memang sangat dianjurkan, namun jika berfikir tentang hal-hal yang tidak berguna apakah itu bukan sebuah kesia-siaan yang dipolesi dengan laber 'berfikir'? Sebagai contoh berfikir tentang kenapa pengemudi bis 69 yang saya tumpangi ini suka mengebut ?

Mungkin bagi sebagian orang berfikir tentang hal tersebut dianggap hal yang sia-sia, namun tidak bagi sebagian yang lain. Karena boleh jadi sang pengemudi tersebut kebelet mau pipis, atau yang paling logis karena dia memang suka ugal-ugalan atau kejar setoran !!!

Yang jelas, ditengah perdebatan tersebut, tentunya orang yang berfikir itu lebih mulia dari pada orang-orang tidur karena kecapean, atau orang-orang yang menyetel mp3nya dengan keras sehingga mengganggu penumpang lain yang menginginkan 'berfikir ketika menaiki bus mini tersebut' atau 'ketenangan' dalam kebisingan bunyi klakson yang kerap kali dibunyikan pengemudi bis mini 69 ini.

Tentunya proses 'berfikir' tersebut harus benar-benar dilakukan dalam keadaan yang 'sangat sadar', karena jika terlalu larut, maka bisa menyebabkan fikiran tidak jalan sehingga 'Mahattah' tujuan akan terlewat sehingga perlu 'JJM (jalan-jalan malam)' untuk sampai ke rumah tercinta ... :)